Aku tak begitu yakin apa aku
harus menulis ini…
Karna aku juga gak yakin aku tau
tentang apa yang aku rasakan saat ini.
Perasaan yang campur aduk,
sepertinya semua sensor dan sistem indra terotomatisasi berfungsi dalam waktu
yang bersamaan. 

Senangnya… sama seperti waktu
aku ngeliat papan pengumuman di kampus Universitas Mulawarman, dan melihat
namaku terpampang disana, lulus UMPTN di Fakultas Kedokteran salah satu
Universitas yang cukup ternama di Indonesia. Sampe sujud syukur di situ juga,
gak peduli banyak orang ngeliatnya.

Bingungnya… setali tiga uang,
waktu papi menyuruhku memilih ekskul mana yang mau aku jalanin pas SMU dulu,
Badminton, dibelikan raket, atau Sepakbola, dibeliin sepatu, dan dia bilang,
aku harus milih salah satu, gak boleh dua-duanya. Damn it, aku bener2 hobi 2
olahraga itu, keputusan sulit yang harus kuambil. 

Bangganya… sebangga yang pernah
aku rasain dulu, waktu aku bisa lulus berbagai macam ujian masuk PTN, sekolah
tinggi, atau pendidikan di perusahaan perminyakan ternama di Balikpapan, dimana
aku tinggal milih aja mana yang mau aku jalani. Dan dengan bangga aku memilih
salah satu Sekolah Tinggi gratisan, yang langsung bisa kerja jadi PNS di
Departemen yang bonafid punya, jadi gak lama-lama nyusahin orang tua. 

Sakitnya… persis ketika aku
terjerembab di trotoar jalanan, pas vespa abangku yang aku kendarai oleng
gara-gara menghindari gadis kecil yang ragu-ragu menyebrangi jalan raya, seperi
kucing mau nyebrang, waktu aku esempe dulu, sampe gak bisa napas. Kecelakaan terhebat
yang pernah aku alami. 

Perihnya... sama banget, kayak
waktu aku dikerjain teman SD dulu, yang katanya, supaya luka di lutut yang aku
dapet gara-gara terlalu bersemangat maen gobak sodor itu, bakalan cepat sembuh
kalo ditetesin jeruk nipis tepat di tengah2 lukanya, dan dia sendiri yang
nawarin buat netesin jeruk sialan itu, ampe tereak2 bikin kaget satu kampung
aku dibuatnya.


Sedihnya…
mirip juga, waktu aku
terakhir kali berbicara dengan nenek di ruang ICCU RSU AW Syahranie Samarinda,
kelas 3 SD, yang kemudian malamnya, nenek sudah tiada, meninggalkan keluarga
kami untuk selamanya, padahal, dia  orang tua dari orang tuaku yang
masih ada, ngerti gak sih maksudnya, ya gitu lah pokoknya, bikin aku gak punya
kaken n nenek lagi gitu lho.

Ah… rasa ini, seperti gado-gado,
atau es campur saja aku
BUkan kali pertama aku alami rasa  ini
Aku pernah mengalaminya, bertahun-tahun yang lalu…
Dan sejak saat itu, berulang kali
aku mencoba untuk mendapatkan rasa yang sama, namun semua yang ku dapat tak
berarti apa-apa kecuali hampa.

Dan kali ini, tanpa bisa aku
duga, begitu saja datangnya, tiba2 rasa itu hadir lagi dalam hati yang sekian
lama beku dan membatu ini.
Hanya saja, rasa kali ini sedikit
berbeda. Lebih dalam, lebih realistis, dan lebih gak logis. 

Ini bukan cinta… Karna cinta
gak akan sanggup menggambarkan semua perasaan yang menggelembung dalam segumpal
darah di dadaku ini. 

Tidak…rasa ini lebih dari
sekedar cinta

Aku sadar dia membuatku sakit,
tapi sakit ini justru membahagiakan sukmaku, rasanya aku ingin membuat ribuan
luka di tubuh ini, lalu meneteskan semua luka itu dengan jeruk nipis paling
asam di dunia sekalipun, untuk mendapatkan sakit itu lagi, dan lagi. Saat
lukanya akan menutup, aku akan membuat luka yang baru lagi. Karna Sakit ini sudah mencandu
dalam otakku. 

Aku mau ikut semua ujian PTN
lagi, dan dengan bangga lulus semuanya lagi…
Aku rela semua kakek nenekku
hidup lagi, kemudian satu per satu meninggal lagi…
Aku sudi, terbingung-bingung
disuruh milih badminton atau sepakbola lagi..
Aku gak nolak, naik vespa lagi
trus tabrakan hingga puluhan tulangku patah-patah… 

Aku mungkin sudah gila…. dan
aku gila karna kamu… 

Ayo… terus saja, sakiti aku, karna
sakit itu justru menguatkan rasa  ini…
Terus  saja, perihkan hatiku,
karna perih itu akan membangkitkan semangat ini…
Terus saja, pedihkan jiwaku,
karna pedih itu malah memberiku kekuatan, untuk setia menunggumu, hingga datang
saatnya kau menerima cintaku… 

Memang, saat ini kamu gak
melihatku, tapi bukan berarti aku gak ada. 

Banggakan aku, bingungkan aku,
sedihkan aku, berikan sakit itu..

Tusuk aku dengan pisau pedihmu
dari depan… dan tombak perihmu dari belakang, biarkan mata pisau dan ujung
tombak menyatu tepat di tengah jantungku…dan aku akan tetap menjaga rasa ini
untukmu…

Karna aku mungkin sudah gila, dan
aku gila aka63th_thumbsn
dirimu …

Untukmu Negeriku, Apapun… Engkau tetap Indonesiaku

4 Responses to “17 Agustus 2008 Pukul 00.15 WIB”
  1. hatimu lagi pingin rujak tuh….

    ada asem, asin, manis…..

    cobin deh ngerujak…ingat ngerujak kang

    jangan menglunjak…..ok

  2. keren

  3. wuuuuihh… smangat bener! pasti keyboardnya bunyi cetak-cetok, hihihihi..
    btw yg wrn kuning jadi susah kebaca dhir, bentrok ma putih, bckgroundmu ini

  4. beeeeeeeeeeeeeeeeeeugggh…bener2 dah si godeer semangat 45 bo! saktii!

Leave a Reply