Archive for August, 2008

Aku tak begitu yakin apa aku
harus menulis ini…
Karna aku juga gak yakin aku tau
tentang apa yang aku rasakan saat ini.
Perasaan yang campur aduk,
sepertinya semua sensor dan sistem indra terotomatisasi berfungsi dalam waktu
yang bersamaan. 

Senangnya… sama seperti waktu
aku ngeliat papan pengumuman di kampus Universitas Mulawarman, dan melihat
namaku terpampang disana, lulus UMPTN di Fakultas Kedokteran salah satu
Universitas yang cukup ternama di Indonesia. Sampe sujud syukur di situ juga,
gak peduli banyak orang ngeliatnya.

Bingungnya… setali tiga uang,
waktu papi menyuruhku memilih ekskul mana yang mau aku jalanin pas SMU dulu,
Badminton, dibelikan raket, atau Sepakbola, dibeliin sepatu, dan dia bilang,
aku harus milih salah satu, gak boleh dua-duanya. Damn it, aku bener2 hobi 2
olahraga itu, keputusan sulit yang harus kuambil. 

Bangganya… sebangga yang pernah
aku rasain dulu, waktu aku bisa lulus berbagai macam ujian masuk PTN, sekolah
tinggi, atau pendidikan di perusahaan perminyakan ternama di Balikpapan, dimana
aku tinggal milih aja mana yang mau aku jalani. Dan dengan bangga aku memilih
salah satu Sekolah Tinggi gratisan, yang langsung bisa kerja jadi PNS di
Departemen yang bonafid punya, jadi gak lama-lama nyusahin orang tua. 

Sakitnya… persis ketika aku
terjerembab di trotoar jalanan, pas vespa abangku yang aku kendarai oleng
gara-gara menghindari gadis kecil yang ragu-ragu menyebrangi jalan raya, seperi
kucing mau nyebrang, waktu aku esempe dulu, sampe gak bisa napas. Kecelakaan terhebat
yang pernah aku alami. 

Perihnya... sama banget, kayak
waktu aku dikerjain teman SD dulu, yang katanya, supaya luka di lutut yang aku
dapet gara-gara terlalu bersemangat maen gobak sodor itu, bakalan cepat sembuh
kalo ditetesin jeruk nipis tepat di tengah2 lukanya, dan dia sendiri yang
nawarin buat netesin jeruk sialan itu, ampe tereak2 bikin kaget satu kampung
aku dibuatnya.


Sedihnya…
mirip juga, waktu aku
terakhir kali berbicara dengan nenek di ruang ICCU RSU AW Syahranie Samarinda,
kelas 3 SD, yang kemudian malamnya, nenek sudah tiada, meninggalkan keluarga
kami untuk selamanya, padahal, dia  orang tua dari orang tuaku yang
masih ada, ngerti gak sih maksudnya, ya gitu lah pokoknya, bikin aku gak punya
kaken n nenek lagi gitu lho.

Ah… rasa ini, seperti gado-gado,
atau es campur saja aku
BUkan kali pertama aku alami rasa  ini
Aku pernah mengalaminya, bertahun-tahun yang lalu…
Dan sejak saat itu, berulang kali
aku mencoba untuk mendapatkan rasa yang sama, namun semua yang ku dapat tak
berarti apa-apa kecuali hampa.

Dan kali ini, tanpa bisa aku
duga, begitu saja datangnya, tiba2 rasa itu hadir lagi dalam hati yang sekian
lama beku dan membatu ini.
Hanya saja, rasa kali ini sedikit
berbeda. Lebih dalam, lebih realistis, dan lebih gak logis. 

Ini bukan cinta… Karna cinta
gak akan sanggup menggambarkan semua perasaan yang menggelembung dalam segumpal
darah di dadaku ini. 

Tidak…rasa ini lebih dari
sekedar cinta

Aku sadar dia membuatku sakit,
tapi sakit ini justru membahagiakan sukmaku, rasanya aku ingin membuat ribuan
luka di tubuh ini, lalu meneteskan semua luka itu dengan jeruk nipis paling
asam di dunia sekalipun, untuk mendapatkan sakit itu lagi, dan lagi. Saat
lukanya akan menutup, aku akan membuat luka yang baru lagi. Karna Sakit ini sudah mencandu
dalam otakku. 

Aku mau ikut semua ujian PTN
lagi, dan dengan bangga lulus semuanya lagi…
Aku rela semua kakek nenekku
hidup lagi, kemudian satu per satu meninggal lagi…
Aku sudi, terbingung-bingung
disuruh milih badminton atau sepakbola lagi..
Aku gak nolak, naik vespa lagi
trus tabrakan hingga puluhan tulangku patah-patah… 

Aku mungkin sudah gila…. dan
aku gila karna kamu… 

Ayo… terus saja, sakiti aku, karna
sakit itu justru menguatkan rasa  ini…
Terus  saja, perihkan hatiku,
karna perih itu akan membangkitkan semangat ini…
Terus saja, pedihkan jiwaku,
karna pedih itu malah memberiku kekuatan, untuk setia menunggumu, hingga datang
saatnya kau menerima cintaku… 

Memang, saat ini kamu gak
melihatku, tapi bukan berarti aku gak ada. 

Banggakan aku, bingungkan aku,
sedihkan aku, berikan sakit itu..

Tusuk aku dengan pisau pedihmu
dari depan… dan tombak perihmu dari belakang, biarkan mata pisau dan ujung
tombak menyatu tepat di tengah jantungku…dan aku akan tetap menjaga rasa ini
untukmu…

Karna aku mungkin sudah gila, dan
aku gila aka63th_thumbsn
dirimu …

Untukmu Negeriku, Apapun… Engkau tetap Indonesiaku

Comments 4 Comments »

        Sudah lama sbenernya ane pengen
nulis sesuatu buat ngisi blog yg ane punya. Keren aja gitu kalo ngeliat temen2
lain yang rajin ngisi blognya dngan berbagai artikel, komentar, curhat n segala
macemnya, rasanya enak ya kalo punya tempat
tuk mencurahkan apa yang ada di kepala dan hati kita, memberi komentar tentang
kejadian2 di sekitar kita, tanpa peduli dan tanpa takut komentar orang lain,
atau konsekuensi dari komentar yang kita tulis, santai aja, blog ini punya
guwa, lo lo yang pada baca gak perlu sewot kalee, jadi cukup ngasih comment
aja.
pISS…

Comments No Comments »

0541-733XXX
Perlahan aku menekan tombol dengan kode area Samarinda itu melalui handphone
ku…

Tuuttt…tuuu…ceklek..
Belum selesai nada sambung kedua,
seorang wanita menjawab telepon di ujung sana,

“Haloo…”
“Assalamu’alaikummm…”
“Wa’alaikumsalaammm…”
“Pak Djuhaini nya ada??…”

 Telepon tertahan, sayup terdengar
percakapan di rumah itu….
“Papiiiii…buat mu nahh…dari
Kepala Sekolah…” dilanjutkan bisik-bisik cekikikan…
Ahh…mami…masih saja suka bercanda
dengan kekasihnya itu, padahal aku yakin, dari suaraku saja, mami sudah tau
kalau aku yang menelpon…

 “Ya…halo…Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalaamm… Selamat Ulang Tahun Pi…. Sudah 70 tahun
nih….

“Hahaha….Makasih nakk…
Alhamdulillah, tidak terasa ini…Papi sudah makin tua saja, dinama kamu ini?”
“Masih di kantor Pi, Pontianak… Jadi, bikin acara apa dsana?”
“Ahh…mana ada, mami mu aja yg masak, seperti biasa, trus baca doa selamat,
itu aja sudah…”
“Kadonya dek!!! Kalo gak angpaonya aja!!!” terdengar teriakan salah satu
kakakku di belakang sana.

“Hahaha…gak…gak usah…ditabung aja uangnya buat kuliah di Jakarta nanti,
kirim doa aja ya nak…” Papi menjawab tanpa aku bertanya
, dia memang mengerti, selalu saja mengerti.
“Iya…Insya Alloh moga sisa umurnya diberi kesempatan banyak2 ibadah… Jadi,
gimana tuh, anak bungsunya yg cewek sudah dilamar katanya, sudah netapkan
tanggal kah?”

“Alhamdulillah….akad nikah kakakmu tgl 24, resepsinya 26, Oktober…Ya Nor
ya?? Dia bertanya, meyakinkan, dan dijawab ya oleh kakakku yg dari 8 orang,
tinggal dia yg belum menikah, selain aku tentunya, si bungsu lelaki.
“Kalo gitu….saya mau minta ijin ini….mmm…” suaraku sedikit tertahan, ragu
rasanya.
“Mmm..knapa, mau bareng juga nikahnya? Hahaha…” Dia emang suka bercanda,
papiku itu, ada-ada saja.

“Hahaha….” Aku tertawa kering. “Bukan itu…berarti saya gak bisa pulang lebaran
ini Pi. Masalahnya kan sayang kalo bolak-balik, tanggal itu kan pas banget
akhir bulan Syawal… gak pa pa kah ? ”
“Ohhh…ya gak apa2 lah, kamu kan sudah lama kerja disana nakk, pasti banyak
teman juga kan yg harus dikunjungi, jadi gak terlalu sepi lah kalo lebaran
disana itu . ”
“Iya kah… bener gak apa-apa ?” aku tau dia pasti kecewa, aku anak terakhir
yg dari kecil, paling ia banggakan.

“Iya, gak apa-apa, betul, kan sudah jadwalnya seperti itu, masih suasana
lebaran juga kan, kemaren bulan maret juga sudah pulang kan, ya gak masalah
lah. Nanti abis kuliah juga bisa puas-puas disini kan, berapa lama kamu
kuliah ? ”
“2 tahun Pi…ehm” suaraku tercekat di ujung leher, dia bener2 bisa mengerti,
padahal dulu, aku sering kali berselisih paham dengannya, dan keputusan yang
kuambil, selalu saja bertentangan dengan keinginannya. 

Aku ingat, dulu waktu mau masuk SMP, dia ingin aku bersekolah di SMP 6,
dekat rumah dan tempat ia menjadi Ketua BP3, tapi aku tidak, aku memilih SMP 1,
yang jaraknya dari rumah justru sangat jauh.

Lalu waktu mau masuk SMA, dia menyarankan supaya aku sekolah di SMU 2, yang
jaraknya cuma sejengkal dari rumahku. Lagi2 aku gak setuju, dan memilih SMU 1,
yang kata oarang-orang, tinggal manjat tembok pindah ke sebelah gedung buat anak2
alumni SMP1. 

Begitu pula dengan keputusan ku yang lebih serius bersaing dalam pemilihan
Ketua Rohis SMU, ketimbang menjalani penjaringan Balon Ketua OSIS, yang
jelas-jelas, papiku itu bilang, lebih bergengsi. Tapi waktu itu, setelah
menjelaskan alasan2ku, ternyata dia bisa mengerti apa yang aku pikirkan, dan
sepertinya sejak saat itu, dia selalu bisa mengerti semua pilihan dan
keputusanku.

“Yaa sudah kalau gitu, nanti waktu penjaringan Balon Ketua OSIS, kamu
telat-telat aja datengnya, 1-2 jam lah, sudah pasti gak kepilih tuh”,
Hihihi…dia malah memberi tips dan trik nya.
Dan benar saja, aku gugur di tahap terakhir, gak
masuk 3 besar.
“Komunikasi, yang penting itu, asal kamu bisa jelasin dengan baik, dan
alasannya masuk akal, Papi pasti terima setiap keputusan yang kamu ambil nak.” begitu yang pernah dia bilang,waktu aku tanya knapa kita berdua sering berbeda pendapat. 

“Trus…kapan kamu berangkat ke Jakarta?” aku tersadar dari lamunan…
“Mmm…sekitar akhir Desember ini Pi, masih nunggu surat panggilan soalnya.”
“Begini, tempo hari, papi ditanya sama Om kamu, nawarin tinggal di
apertemennya di Jl Sudirman, katanya sekarang kosong, cuma ada yang bantuin
jaga2 aja sekali-sekali kesana, kira-kira mau kah tinggal disana?” Hhmm…Sudirman
kan jauh juga dari Bintaro, walaupun cuma 1x naek Transjakarta.

“Wah..agak jauh juga tempatnya Pi, lagian gak enak juga, masak mau kuliah
trus tinggal di tempat mewah gitu, gak biasa kayaknya, ntar susah kalo ada
keperluan di kampus juga kan, liat nanti lah, kalau ada kendaraan mungkin bisa,
tapi kayaknya lebih bagus ngekos aja, sama teman-teman. Soalnya kampus saya bukan
di Jakarta, Tangerang Pi…”

“Ohh..iya sudah, benar aja. Mmm sebentar dulu, anu… itu sepupu kamu si
Mamad, katanya mau pendidikan juga dari kantornya itu, 6 bulan, ketemu aja
kalo’ nanti dsana ya? ”

“Oh iya kah, sudah dsana kah dia?”
“Waduh…kurang tau juga saya ini,
nanti papi tanya lagi lah. ”
“Oh…iyah..moga aja bisa ketemu
lah disana ntar.” 

“Eh… sudah tau kah ponakanmu itu
masuk mana, si king-king?
“Gimana…ceritanya?”
“SMA 1 kasian, hebatt, waktu
penerimaan rangking 7 malah, dari 300an itu.”
“Ahh..sudah diatur kali tuh, sama
Papi.” Sekarang ia memang Ketua Komite disana, heran juga, justru dia yang
sekarang senang kalo ada cucunya yang masuk SMA1, coba waktu dulu, hmmm…
“Mana adaa…Kepala Sekolah aja gak
tau itu kalo ada cucunya Papi ikut tes, waktu sudah lulus baru Papi bilang sama
dia.”
“Trus, sudah mulai sekolah kah
dia sekarang….?”
“Iya kasian… Tau lah,
hihihi….jadi Ketua Kelas….gak mau kalah sama Omnya kalo’…”
“Hahaha….bagus aja, kok bisa kepilih?”
“Yaa itu, heran juga, dipilih cewek-cewek katanya…”

“Hahaha….ngade-ngade jak,” masih tetep suka bercanda orang tua ini,
sampe-sampe aku gak sadar kalo aku menanggapinya pake logat Pontianak. 

“Jadi…apa kegiatan sekarang?”
“Kerja aja Pi, sperti biasa aja, ini juga lagi ngurus cuti kuliah, takutnya
ntar di Jakarta Drop Out, trus dikembalikan ke Pontianak, kan tetep bisa
nglanjutin S1 nya, sayang kalo dilepas Pi…”

“Ya..kalo bisa jangan gagal yah, nanti diurus aja, minta penempatan di
Samarinda, Balikpapan, atau Banjarmasin lah masih dekat…” nada bicaranya penuh doa
dan harap.
Aku terdiam, tak bisa berjanji, takut kalau harapannya tak bisa ku penuhi. 

“Yaa nakk…” mungkin ia bingung juga kenapa aku diam, belum bisa aku
jelaskan saat ini, nanti, pasti datang saatnya.
“Iya..doain aja ya Pi…” aku menjawab, mencari area yang aman, agar tidak
ditanya lebih jauh.

“Insya Allah, selalu didoakan kok…Mau bicara sama mami kah?” Tawaran yang
menggiurkan, tapi..ini sudah terlalu lama, lain waktu pasti ada, dan biasanya
waktu untuk mami ada di setiap minggu ba’da subuh, hari ini belum gilirannya.

“Gak usah kayaknya Pi, nanti aja saya telpon lagi..Itu aja dulu ya”
“Oh Iyaa..yaa..sudah..”
“Selamat Ulang Tahun lagi ya Pi…”
“Haha…iya ya..makasih nakk…”

“Salam aja buat semuanya, love
you all” merinding aku mengucapkannya.
“Hah…ya iya…. apa??”
Gedubrak….ngerti gak ya dia, hihihi, bodohnya aku
“Ahh…nggak…gak apa-apa Pii, udah
dulu ya, Assalamualaikuum…” jadi malu sendiri nih…
“Ya… Wa’alaikumsalaam Warohmatulloh Wabarokatuh.” Slalu begitu,
menjawab salam singkatku dengan sangat lengkap, dan aku tau, di balik sepenggal
salam itu, tersirat jutaan doa darinya.

Pontianak, Jum’at 15 Agustus 2008
Pukul 16.10, Gudang Berkas, Seksi
TUP KPP Pontianak

 

Comments No Comments »